The Last Chocolate

Sore ini aku berjalan menyisir trotoar di tepi jalan Thamrin. Menjinjing sebuah tas berwarna hitam dan bunyi hentakan hak sepatu yang beradu dengan jalanan mengiringi langkahku. Aroma sisa-sisa hujan beberapa saat yang lalu masih tercium olehku. Menyerupai bau tanah dan dedaunan basah.

Di jalan raya sisi kiriku, jalanan mulai padat. Kendaraan roda empat yang beraneka bentuk maupun ukuran seakan berjalan begitu pelan. Sudah jam setengah enam rupanya. Jam pulang kantor sudah berlalu setengah jam yang lalu. Hujan yang baru saja reda juga bisa jadi menjadi penyumbang kemacetan yang ada. Siapapun itu pasti berpikir dua kali jika ingin menembus hujan. Mereka yang tadi pagi menggunakan kendaraan umum, sebagian pasti memilih menggunakan taksi online ataupun taksi yang berlalu lalang di jalan. Setidaknya sampai stasiun kereta atau halte busway terdekat. Read more

Advertisements

Kau…

4831

Pernahkah kalian memiliki seseorang yang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan kalian, mempengaruhi suasana hati kalian baik dan buruknya?

Pernahkah kalian memiliki seseorang yang menjadi sumber inspirasi dalam menjalani hidup entah dalam hal apapun itu?

Aku memilikinya. Seseorang diluar anggota keluargaku tentunya, yang bisa dikatakan memiliki kendali atas diriku. Read more

Bangku Taman

Bolehkah aku bercerita sesuatu. Sebuah cerita yang sebenarnya aku sendiripun bingung ingin memulainya darimana. Baiklah begini saja. Saat ini aku sedang berjalan di sebuah jalan yang biasa ku lewati bersamanya. Sebuah jalan dimana kami selalu menghabiskan waktu bersama sesaat setelah selesai bekerja dan pada akhirnya kami berpisah untuk menaiki bus yang berbeda. Sebuah jalan yang teduh. Dengan berbagai pepohonan di sisi kanan dan sisi kiri yang menambah keteduhan. Kami biasa berjalan di sisi kiri dengan aku yang berada di sisi luar sedangkan ia di sisi dalam. Bersenda gurau atau membahas kekesalan kami masing-masing dengan rekan kerja ataupun atasan kami masing-masing. Read more

Unpredictable

Soo-ri menghempaskan dirinya di kasur hotel yang sedari tadi sudah membayang-bayanginya. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Setelah ia menemukan tempat tinggal—beruntung ia langsung cocok dengan pilihan pertama—mereka menghabiskan waktu hingga larut malam dengan mencari perabotan yang akan digunakan untuk mengisi apartemennya yang masih tampak kosong.

Sewaktu mencari perabotan, benda-benda cantik itu seakan menghipnotisnya hingga ia tidak merasa lelah sama sekali. Jika saja ia tidak melihat Jong-in yang sudah menguap berulang kali, pasti Soo-ri tidak akan sadar berapa lama waktu yang sudah dihabiskannya. Beruntung perabotan dasar sudah ia dapatkan semua. Dan ia kini merasakan akibatnya. Kedua kakinya sangat pegal.

Walaupun rasa lelah menguasainya, ia sadar bahwa ia tetap harus mandi sedingin apapun udara di sini. Jika tidak, ia tidak akan bisa tidur semalaman. Baru saja ia menurunkan dan mendaratkan kakinya di hamparan karpet berwarna putih yang lembut ketika ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.

Apa kau sudah tidur? Rendam kakimu dulu di air hangat supaya terasa nyaman. Read more

Sedan Merah

Apa kalian tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa? Sebuah rasa yang menyebabkan hatimu bergetar ketika bertemu dengan seseorang yang menyebabkan rasa itu muncul. Selain itu, apakah kalian tahu rasanya mengalami pertemuan tak terduga dengan orang itu? Sebuah pertemuan tak terduga yang sebenarnya sudah kalian harapkan setiap detiknya.

Aku baru saja mengalaminya. Tentu saja, dengan dia yang ku kagumi secara diam-diam. Ah, aku lupa mengatakannya. Kami berada dalam satu lingkungan kerja yang sama. Tidak dalam bidang yang sama, memang. Akan tetapi, kami tetap berada dalam satu gedung yang sama. Jika begitu, kemungkinan untuk bertemu itu ada, bukan? Read more

Kopi di Pagi Hari

kopi di pagi hari2.jpg

Semerbak harum kopi yang berpadu dengan aroma roti panggang memenuhi apartemen yang di huni Kai dan kedua temannya. Baginya secangkir kopi di pagi hari akan membuatnya bisa melwati harinya dengan mudah. Rasa pahit yang menyegarkan dan aroma yang menenangkan. Kedua hal itulah yang ada di benak gadis bermata coklat dan rambut yang ikal yang terjuntai hingga pinggang sejak 2 tahun yang lalu. Read more

Akasia

Akasia copyright

Seorang gadis bermata coklat dengan rambut ikal terurai sepinggang, tersenyum memperhatikan sepasang gadis kecil dan teman laki-lakinya yang tampak seumuran. Gadis kecil dengan kuncir dua di sisi kanan dan kiri kepalanya itu tampak memegang erat setangkai daun empat semanggi dengan tangan mungilnya. Sementara teman laki-lakinya tengah berjongkok tidak jauh dari gadis itu—mencari dan memetik bunga liar yang terhampar bebas. Read more

Amplop Coklat

amplop.png

Suara ledakan ban, decitan rem, dilanjutkan dengan perpaduan bunyi dentuman keras yang sahut menyahut—membentuk paduan suara mengerikan—memecah keheningan malam musim gugur ini. Sebuah sedan yang sebelumnya tengah melaju dengan tangguh di jalan sepi kini tampak teronggok di tengah jalan yang gelap dan sepi dengan posisi terbaik, kap yang terbuka, kaca jendela yang hancur berantakan dan tersebar begitu saja di sekitarnya. Read more

Destiny

new.jpg

Angin musim dingin menerpa wajah pria berkulit putih pucat yang tengah duduk di halte bus dekat tempat tinggalnya. Hidung dan telinganya sudah tampak merah. Siapa juga yang akan duduk diam disaat musim lagi dingin-dinginnya—di malam seperti saat ini—tanpa tujuan apapun? Tapi tampaknya pria itu tidak mempedulikannya. Beberapa orang memang tampak berlalu lalang di depannya, orang di sampingnya pun sudah bergantian karena yang sebelumnya telah menemukan bus yang akan menghantarkannya ke rumah. Sedangkan pria ini hanya duduk diam sejak turun dari bus 3 jam yang lalu. Read more