Sore ini aku berjalan menyisir trotoar di tepi jalan Thamrin. Menjinjing sebuah tas berwarna hitam dan bunyi hentakan hak sepatu yang beradu dengan jalanan mengiringi langkahku. Aroma sisa-sisa hujan beberapa saat yang lalu masih tercium olehku. Menyerupai bau tanah dan dedaunan basah.

Di jalan raya sisi kiriku, jalanan mulai padat. Kendaraan roda empat yang beraneka bentuk maupun ukuran seakan berjalan begitu pelan. Sudah jam setengah enam rupanya. Jam pulang kantor sudah berlalu setengah jam yang lalu. Hujan yang baru saja reda juga bisa jadi menjadi penyumbang kemacetan yang ada. Siapapun itu pasti berpikir dua kali jika ingin menembus hujan. Mereka yang tadi pagi menggunakan kendaraan umum, sebagian pasti memilih menggunakan taksi online ataupun taksi yang berlalu lalang di jalan. Setidaknya sampai stasiun kereta atau halte busway terdekat.

Tepat ketika aku sampai di tepi area penyeberangan jalan, lampu untuk kendaraan beroda empat itu berubah menjadi merah dan membuka jalan bagi kami yang ingin menembus kemacetan yang ada. Jalanan basah sedikit mengotori pantofel hitam yang baru saja ku poles pagi tadi. Tak peduli dengan itu, aku tetap mempercepat langkahku menuju seberang. Seseorang tengah menungguku—jika ia tidak terlambat—di seberang sana. Di sebuah kedai kopi yang menjadi kenangan untuk kami.

Siang tadi, aku menghubunginya untuk membicarakan mengenai kelanjutan hubungan yang selama ini kami jalani. Berulang kali menimbang kata yang harus kuutarakan, berulang kali juga aku menimbang apakah ini waktu yang tepat. Entahlah, tapi kuyakinkan dalam benakku bahwa aku harus mengatakannya. Sekarang juga.

Sudah sebulan ini aku tidak bertemu dengannya. Bukan karena bertengkar lalu memutuskan untuk tidak saling menghubungi karena ego yang membuncah. Tentu saja bukan itu. Sebulan belakangan ia tengah berada di Lombok. Mengurusi proyek pembangunan sebuah resort, katanya. Ia yang menjadi penanggung jawab dari proyek ini. Biasanya, ia hanya akan menghabiskan waktu kurang lebih dua malam—atau tiga malam—dalam satu minggu untuk mengontrol pekerjaan yang ada di sana. Sisanya, ia hanya akan menerima laporan dari Jakarta. Duduk manis di kantornya, mengikuti rapat penting dengan atasan, lalu memikirkan dan menindaklanjuti proses dari proyek yang sedang ia jalani. Sesekali ia akan menjemputku untuk makan malam di mana saja. Entah itu sebuah restoran yang ditujukan untuk kelas menengah ke atas ataupun warung tenda di pinggir jalan. Tidak masalah. Namun, karena klien tiba-tiba meminta waktu pengerjaan untuk dipercepat—ditambah pelaksanaan yang sedikit bermasalah—membuatnya harus terjun langsung mengurus proyek itu. Di Lombok.

Setelah berjalan kira-kira 15 menit dari kantorku, akhirnya aku sampai di depan pintu sebuah kedai kopi. Ketika aku menyentuh gagang pintu, jantungku berdebar kencang, membuatku berulang kali menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Aku takut dengan keputusanku ini. Aku takut. Tapi, aku juga tidak bisa jika tidak mengatakannya. Semakin lama aku menundanya, semakin sulit juga untuk kami. Waktu sebulan ini—ketika tidak bertemu dengannya—sudah cukup untukku memikirkan segalanya dengan masak.

Ketika aku berhasil meyakinkan diriku sekali lagi, aku mengangguk mantap, lalu mendorong pintu kaca—yang cukup berat—dengan tenagaku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari sosok pria yang wajahnya sangat kukenali. Mataku tertuju pada sebuah meja kosong di sudut kanan ruangan dengan lukisan seorang anak kecil berkuncir dua yang sedang tersenyum sambil memegang sebuket mawar putih di dada yang berpadu manis dengan baju terusan merah yang ia kenakan. Senyum yang sangat bahagia. Mungkin itu adalah potret anak pemilik kedai ini. Mungkin saja.

Aku berjalan menghampiri meja kosong itu. Dalam benakku, muncul berbagai ingatan mengenai masa lalu. Ketika kami—ia dengan coklat panas kesukaannya dan aku dengan latte-ku—menertawakan kisah yang kami alami hari itu, atau menertawai atasan kami yang unik. Yah, walaupun kadang ada hal-hal yang membuat kesal, namun mereka sebenarnya orang baik. Tapi, entah apa yang merasuki kami, membuat lelucon mengenai orang lain sudah menjadi kebiasaan. Usil, kalau kata orang lain.

Aku menyingkap blouse lengan panjang berwarna peach untuk melirik jam tangan mungil berwarna hitam yang setia melingkar di pergelangan tanganku. Sudah lewat 20 menit dari waktu yang dijanjikan. Kedai ini mulai ramai. Orang yang masuk lebih banyak daripada orang yang keluar dari sini. Dengan berbagai kepentingan. Ada yang datang sendirian—untuk mengerjakan tugas, mungkin—namun, ada juga yang datang berpasangan. Aku menghembuskan napasku, lalu merogoh ponsel dari dalam tasku. Mengetikkan deretan angka yang sudah kuhapal di luar kepala, lalu menekan logo bergambar telepon berwarna hijau. Nada sambung ku dengar tak lama kemudian. Ya Tuhan, ia masih saja menggunakan lagu yang sedang ia sukai sebagai nada sambungnya. Dimana kini ia memasang lagu berjudul Dekat di Hati milik RAN. Aku pernah menanyakan hal ini ketika ia mengganti nada sambungnya dua minggu yang lalu. Katanya, supaya aku tahu bahwa hati kami akan selalu dekat walaupun jarak kami terpisahkan berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Tanpa sadar, bibirku membentu sebuah lengkungan manis yang sedetik kemudian menghilang kala ku sadari itu. Tidak ada jawaban.

Aku meletakkan ponselku dan tepat saat itu juga, aku melihat seorang pria dengan rambut yang agak berantakan dan lengan kemeja yang digulung hingga siku membuka pintu kedai dan melangkah dengan mantap ke arahku. Sejak pertama kali aku menambatkan hatiku padanya, aku selalu menyukai pemandangan ini. Wajah yang tampak lelah, disertai rambut yang sedikit berantakan, namun dengan senyum manis disertai lesung pipi di sisi kanan. Seperti saat ini. Walau aku tahu bahwa ia lelah. Senyum itu selalu ada. Dan seolah tak pernah hilang.

Tak butuh waktu lama untuknya sampai di hadapanku. Dengan gerakan yang seakan sudah terbiasa, ia mengecup keningku, meletakkan tas jinjingnya di sisi kanan kursi, dan duduk di hadapanku.

“Maaf aku terlambat. Hari ini jalanan padat sekali. Walau biasanya juga macet, tapi tidak seperti hari ini.”

Aku mengangguk setuju, “Mungkin karena ini adalah hari Jumat, ditambah dengan hujan yang cukup deras beberapa saat lalu.”

“Oh iya, kau belum memesan apapun? Kau mau apa? Biar aku pesankan. Vanilla Latte seperti biasa?”

“Boleh saja. Tapi sepertinya aku hari ini ingin coklat panas saja.”

Ia mengernyitkan dahinya. Ia tahu, biasanya aku akan memesan coklat jika suasana hatiku sedang tidak baik, atau ada suatu beban berat yang sedang ku alami.

“Ada apa?”

Aku menggedikkan bahu dan tersenyum, “Tidak ada apa-apa. Hanya ingin saja. Tidak boleh memangnya? Ya sudah, pesankan aku Vanilla latte saja seperti biasa.”

Ia tertawa kecil. Tangannya bergerak menuju puncak kepalaku dan mengusapnya dengan lembut, “Tidak ada yang melarang. Tunggu sebentar.”

Tak lama, ia sudah kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir berwarna putih dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Ia meletakkan nampan itu dengan hati-hati dan memindahkan satu cangkir ke hadapanku.

Belum sempat aku meraih cangkir itu, “Hati-hati, masih panas,” katanya.

Aku mengerutkan hidungku sebagai tanda bahwa aku kesal karena tidak bisa langsung meminumnya.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan hingga meminta bertemu denganku dengan alasan ‘sangat penting’ itu?” Ia meniup coklatnya sejenak, lalu menyeruput perlahan dari pinggiran cangkir itu. “Tapi ngomong-ngomong, aku juga punya hal penting yang ingin kubicarakan denganmu, loh.”

Aku mengerutkan kedua alisku. Ia ingin membicarakan apa? Ah, tapi paling-paling hanya menceritakan kisah sebulannya di Lombok atau memberitahukan tempat wisata dengan keindahan memukau di sana.

Aku menopangkan daguku pada telapak tangan kiriku, sementara tangan kananku mengaduk-aduk coklat panas yang seharusnya sudah cukup layak untuk memasuki rongga mulutku. “Benarkah? Kalau begitu kau saja yang mengatakannya.” Ucapku. Aku hanya berusaha mengulur waktu, memikirkan momen yang tepat, juga kata-kata yang tepat untuk mengutarakannya.

Ia membuka tas tangannya, lalu merogoh sesuatu di dalamnya. Tak butuh waktu lama untuknya mencari sebuah kotak kecil berwarna biru dengan manik tepat ditengahnya. Jantungku seketika berdetak semakin tidak karuan. Aku mencoba menerka-nerka arah pembicaraan dan maksud dari kotak itu.

Ia meletakkan kotak biru itu di atas meja, dan menggesernya ke arahku hingga menimbulkan suara gesekkan halus. Aku mencoba menatap matanya lurus, mencari jawaban. Ia hanya tersenyum, lalu menggerakkan dagunya untuk menunjuk kotak berwarna biru itu. “Bukalah,” katanya.

Dengan perlahan, aku mencoba meraihnya dan meletakannya pada kedua telapak tanganku. Rasanya sulit sekali untuk menggerakan tanganku untuk membukanya.

“Kenapa tidak dibuka?” Tanyanya heran ketika melihatku hanya menatap kotak itu dengan tatapan yang mungkin saja tidak bisa ia terka.

Aku menarik napas dalam untuk meyakinkan diriku agar aku membuka kotak itu. Seketika air mataku tertahan di ujung pelupuk mataku ketika aku melihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah cincin dengan ukiran inisial namaku dan namanya. D untuk Dina namaku, dan A untuk Adit. Raditya Purnomo.

Dengan nada bicara gemetar yang sebisa mungkin ku normalkan, aku bertanya kepadanya, “Ini apa?”

Dia tersenyum lembut, “Itu cincin. Masa kau tidak tahu.” Katanya dengan ringan. Ia menarik napasnya, lalu berkata lagi, “Kau tahu? Kita sudah saling mengenal selama dua tahun, dan kurasa usia kita juga sudah sama-sama matang untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dua bulan lagi, aku harus pindah ke Kalimantan. Entah kapan aku akan kembali. Mungkin 5 tahun atau bisa saja tidak akan kembali. Itulah sebabnya akan lebih baik jika kita menikah, sehingga kau bisa ikut denganku. Tapi itupun juga sesuai keputusanmu. Aku tidak akan memaksa. Namun, ku harap kau tahu, bahwa aku sangat mengharapkan untuk tetap selalu bersamamu. Kau tahu itu.”

Aku menutup mulutku untuk menahan isakanku. Bagaimana mungkin.

“Ma-maaf. Tapi aku tidak bisa.” Aku berusaha menenangkan diriku sebaik-baiknya. Raut wajahnya yang semula bahagia, amat bahagia, menjadi raut bingung dan kecewa.

“Maksud kamu?”

Aku menarik napasku dalam untuk menghentikan air mata yang terus menerus keluar tak terkendali, “Ini yang ingin ku katakan. Dit, sebulan ini aku memikirkan hal yang sebenarnya kuputuskan sejak lama sebelum kita melangkah semakin jauh. Kita tidak bisa bersama. Menikah? Apa lagi.”

Aku bisa melihat rahangnya mengeras. Aku tahu ia kecewa. Sama denganku yang juga kecewa terhadap keadaan yang ada. Keadaan yang memaksa bahwa kami harus berpisah. Perbedaan latar belakang budaya yang kami miliki membuatku harus menentukan keputusan. Keluarga atau cinta. Aku adalah anak perempuan pertama dalam keluargaku. Ayah dan ibuku adalah anak tunggal, sedangkan aku memiliki adik perempuan. Aku dilahirkan di tanah batak sehingga mau tidak mau menjadikanku memiliki nama keluarga Simbolon.

Sebagai anak perempuan pertama di dalam keluarga yang lahir di tengah-tengah keluarga yang amat sangat taat terhadap adat, mengharuskanku untuk menikah dengan orang dengan suku yang sama denganku. Sebenarnya untuk diriku sendiri, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Jangan dikira jika aku tidak pernah mengutarakan keinginanku untuk bersama dengan Adit—walaupun saat itu akupun belum tahu apakah Adit serius denganku atau tidak—kepada orang tuaku. Namun, dengan tegas kedua orang tuaku langsung berkata ‘mau kau kemanakan muka bapakmu ini? Janganlah kau dengan orang itu. Mau bapak carikan atau kau cari sendiri?’

Jujur saja saat itu rasanya aku ingin membantah, namun setelahnya ibuku berbicara dengan lembut di dalam kamar. Sebenarnya ia tidak melarang, namun dengan berbagai pertimbangan yang ia berikan, aku pada akhirnya memutuskan untuk tidak meruskan hubungan ini.

Adit menghabiskan coklat di cangkirnya hingga tandas, “Kenapa, Din?”

“Kamu ingat dengan lelucon yang kubuat ketika aku menceritakan bahwa ayahku sangat menginginkan jika aku menikah dengan seseorang yang memiiki suku yang sama denganku? Itu bukan lelucon, Dit. Itu memang keadaannya. Ayahku sudah tua dan sakit-sakitan. Aku tidak ingin mengecewakannya.” Aku menarik napas sejenak, dan melanjutkan, “Orang tuaku sudah memilihkan jodoh untukku. Tidak harus menikah sekarang, memang. Tapi, ia adalah teman kecilku. Kau ingat Ganda?”

Ganda adalah teman sejak masa kecilku yang sama-sama merantau ke Jakarta sejak kuliah. Tentu saja Adit beberapa kali pernah bertemu dengannya ketika kami hang out bersama. Sudah berulang kali ayahku mengutarakan bagaimana kagumnya ia pada Ganda yang sekarang sudah menjadi seorang manager produksi pada sebuah perusahaan besar. Dan yang terpenting adalah ia orang Batak dan keluargaku sudah sangat mengenalnya. Itulah mengapa beberapa hari lalu, secara mendadak ibuku mengatakan bahwa ia sudah membicarakan mengenai perjodohan antara aku dengan Ganda.

Adit mengangguk perlahan, “Tidak bisakah kau memikirkannya kembali?”

Aku menggeleng, “Maaf, Dit.”

Dengan sekali gerakan, aku langsung meraih tas tanganku yang tergeletak di ujung meja, lalu melangkah pergi. Aku merasakan sesuatu yang hangat mengenggam lenganku. aku terdiam untuk merasakan genggaman itu untuk yang terakhir kalinya. “Selamat tinggal,” Ucapku. Akupun sadar ketika aku melangkah melewati pintu kedai kopi ini, berarti akan menjadi pertemuan terakhir dengannya sebagai dua orang yang pernah saling menautkan hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s