Bolehkah aku bercerita sesuatu. Sebuah cerita yang sebenarnya aku sendiripun bingung ingin memulainya darimana. Baiklah begini saja. Saat ini aku sedang berjalan di sebuah jalan yang biasa ku lewati bersamanya. Sebuah jalan dimana kami selalu menghabiskan waktu bersama sesaat setelah selesai bekerja dan pada akhirnya kami berpisah untuk menaiki bus yang berbeda. Sebuah jalan yang teduh. Dengan berbagai pepohonan di sisi kanan dan sisi kiri yang menambah keteduhan. Kami biasa berjalan di sisi kiri dengan aku yang berada di sisi luar sedangkan ia di sisi dalam. Bersenda gurau atau membahas kekesalan kami masing-masing dengan rekan kerja ataupun atasan kami masing-masing.

Ah, ya. Mungkin dari kalian bertanya-tanya bagaimana aku bisa mengenalnya. Kami bertemu pertama kali di hari wawancara calon pegawai. Aku yang melamar untuk mengisi bagian teknologi informatika dan desain dan dia melamar di bagian finance. Masih terekam jelas dalam ingatanku ketika aku melihatnya berjalan setengah berlari dengan menenteng map berwarna coklat dan tas kecil bertali panjang berwarna biru yang ia sampirkan pada bahu kirinya. Aku tidak tahu mengapa ia berlari. Ia belum terlambat, bahkan.

Pagi itu kami duduk berhadapan di ruang tunggu sebelum kami dipanggil satu persatu ke dalam ruang persidangan, begitulah cara dia menyebutkannya. Ia berkata bahwa ruang wawancara adalah sebuah ruang persidangan yang di mana akan memutuskan kita akan mati atau tidak. Ah bukan. Diterima atau bukan. Tapi aku ingat benar ketika ia mengatakan hal itu dengan menggebu-gebu sesaat ketika ia keluar dari ruang ‘persidangan’ itu. Aku mendapat giliran terlebih dahulu, tentu saja. Dengan wajah sumiringahnya, ia menghembuskan nafas lega dan aku dapat melihat sinar dari matanya.

Kami berdua berhasil dan kami memulai hari pertama kami di hari yang sama. Dan itulah pertemuan kedua kami. Aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak tersenyum ketika melihatnya. Ada sebuah perasaan asing ketika itu. Lagi, sepatu ber hak kira-kira 10cm, ia berjalan setengah berlari menuju pintu elevator yang hampir tertutup. Aku sudah berada di dalam terlebih dahulu. Aku heran, apakah kakinya tidak sakit ketika berlari seperti tadi, dan dengan sepatu seperti itu?

Di dalam elevator hanya tinggal kami berdua ketika melewati lantai 10. Kantornya berada di lantai 14 sedangkan aku di lantai 16. Ketika itu, ia langsung mengenaliku. Tentu saja aku telah mengenalinya terlebih dahulu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan senyum cerianya dengan lesung pipi di sisi kiri dan kanan ketika keluar dari ruang ‘persidangan’ kala itu. Senyum yang rasanya membuat jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat. Senyum yang membuatku lupa akan hal-hal yang ada di sekitarku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa mengeluarkan sebuah kata apapun untuk menyapanya hingga ia melakukannya terlebih dahulu.

“Hai. Kita bertemu ketika hari persidangan, bukan?” katanya.

“Ah, iya. Kau benar. Jadi, kau juga diterima di perusahaan ini? Selamat ya.” Kataku. Aku bingung ingin memiliki ekspresi seperti apa. Jadilah aku berakhir dengan jawaban seperti itu. Tidak berkesan bahwa aku memiliki perasaan terlalu senang.

“Tapi, aku sepertinya melupakan namamu. Rudi, eh Romi.” Ujung jari telunjuknya mengetuk-ngetuk bibir bawahnya, menandakan bahwa ia sedang berpikir.

“Ck ck ck. Ray. Raynaldi. Jauh sekali kau mengingat namaku.” Kemudian kami tertawa bersama dan berpisah di lantai 14.

Hari demi hari kami lalui dengan makan siang bersama beberapa kali hingga pulang bersama. Melewati jalan ini tentu saja. Di ujung jalan, terdapat supermarket tempat ia biasa mampir untuk membeli sebuah es krim coklat yang katanya sangat enak. Lalu kami akan duduk sejenak di kursi taman tepat di seberang supermarket itu untuk berbincang seraya dia menghabiskan es krimnya sebelum kami pulang dan berpisah dalam bus yang berbeda. Wajahnya selalu tampak bahagia ketika menyantap benda setengah cair berwarna coklat itu. Katanya, makanan ini merupakan penetralisir otaknya. Setelah lelah bekerja, lelah berurusan dengan orang lain yang sesungguhnya tidak ia inginkan, ia menetralkannya dengan makanan favoritnya. Dia sangat cantik ketika tersenyum, kalian tahu.

Aku sangat gugup saat ini. Semua orang sebenarnya mendukungku. Mendoakanku semoga berhasil. Membanjiri kotak pesanku dengan berbagai pertanyaan dan ucapan. Namun, rasa gugup ini membuatku tidak nyaman sekaligus sangat senang. Sebuket bunga mawar putih kesukaanmu dalam genggamanku dan sepasang cincin dalam kantong celanaku. Menunggumu di jalan ini. di bangku taman kita.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s