Soo-ri menghempaskan dirinya di kasur hotel yang sedari tadi sudah membayang-bayanginya. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Setelah ia menemukan tempat tinggal—beruntung ia langsung cocok dengan pilihan pertama—mereka menghabiskan waktu hingga larut malam dengan mencari perabotan yang akan digunakan untuk mengisi apartemennya yang masih tampak kosong.

Sewaktu mencari perabotan, benda-benda cantik itu seakan menghipnotisnya hingga ia tidak merasa lelah sama sekali. Jika saja ia tidak melihat Jong-in yang sudah menguap berulang kali, pasti Soo-ri tidak akan sadar berapa lama waktu yang sudah dihabiskannya. Beruntung perabotan dasar sudah ia dapatkan semua. Dan ia kini merasakan akibatnya. Kedua kakinya sangat pegal.

Walaupun rasa lelah menguasainya, ia sadar bahwa ia tetap harus mandi sedingin apapun udara di sini. Jika tidak, ia tidak akan bisa tidur semalaman. Baru saja ia menurunkan dan mendaratkan kakinya di hamparan karpet berwarna putih yang lembut ketika ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.

Apa kau sudah tidur? Rendam kakimu dulu di air hangat supaya terasa nyaman.

Selalu seperti ini, pria bernama Jong-in akan memberikannya berbagai perhatian kecil.

“Astaga! Aku lupa menghubungi mereka.” Soo-ri baru menyadari bahwa karena terlalu asik jalan-jalan mengunjungi tempat wisata di Seoul selama beberapa hari kemarin dan tentunya ditambah kegiatannya mencari tempat tinggal, ia lupa menghubungi keluarganya di Indonesia.

Sejak Sari berusia 3 tahun, ia dan keluarganya memang pindah dan menetap di Indonesia dan baru sekarang ini, Soo-ri kembali ke Korea untuk melanjutkan pendidikannya. Sebelumnya memang ia sering ke sini, tapi toh itu hanya untuk berlibur dan mengunjungi kakek dan neneknya. Jika ada yang bertanya mengapa ia tidak tinggal di rumah mendiang kakek dan neneknya, maka ia akan menjawabnya dengan alasan ia ingin tinggal di Seoul. Sesederhana itu.

Soo-ri langsung meloncat dari kasurnya dan berlari menuju tas tangannya yang ia letakkan di sofa berwarna krem yang berada di dekat pintu kamar mandi. Fuhh masih jam 11, pikirnya. Itu berarti di Jakarta masih jam 9 dan tidak mungkin jika mereka sudah tidur jam segitu. Kedua orang tuanya—terutama ayahnya—merupakan seseorang yang rajin bekerja. Pada jam-jam seperti ini, ayahnya pasti masih sibuk mengerjakan proyek bangunannya.

Appa1!” Teriaknya ketika telponnya diangkat.

Masih ingat appa rupanya ya?” Jawab Jin-shik dengan ketus yang dibuat-buat.

Soo-ri memamerkan deretan gigi rapi miliknya yang tentu tidak bisa dilihat ayahnya, “Appa… Maaf. Aku terlalu asik ketika sampai di sini. Oh iya, jangan lupa simpan nomerku ya.” Soo-ri duduk pada sofa hitam di hadapannya.

Jin-shik tertawa renyah di seberang sana, “Ya, appa tahu. Tapi mamamu sudah khawatir padamu, nak. Jika kau tidak menelpon, mungkin ia akan menyusulmu ke Korea.” Kata Jin-shik membuat Soo-ri meringis. Ia tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba ibunya datang ke Korea dan membuat pengumuman di seluruh sudut kota Seoul—atau mungkin seluruh Korea—karena tidak bisa menghubungi anaknya.

Terdengar suara ibunya sedang bertanya pada ayahnya mengenai siapa yang menelpon. Ketika suaminya itu memberitahu, Lana langsung meraih ponselnya dan berbicara pada anaknya.

Sari, kamu kemana aja, kok baru telepon mama?” Tanya Lana. Sari adalah nama Indonesia untuk Soo-ri.

“Iya ma, biasa, keasikan sih.”

Dasar kamu ini, oh iya, gimana, kamu sudah dapat tempat tinggal?”

Soo-ri mengangguk dan langsung menyadari bahwa ibunya pasti tidak bisa melihatnya, “Sudah, di daerah Eungbong. Lusa perabotannya akan dikirim dan langsung bisa ditempati….” Soo-ri menjelaskan mengenai calon tempat tinggalnya itu.

Begitu? Ya sudah kalau kamu sudah suka pada tempatnya. Jaga dirimu baik-baik ya di sana. Langsung hubungi mama atau appa mu jika ada apa-apa.

Soo-ri mengusap tengkuknya, “Iya ma, mama dan appa juga jaga diri baik-baik. Jangan terlalu sibuk bekerja. Love you, Mom.

Love you too, darling.”

Setelah sambungan telepon terputus, Soo-ri menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan melangkah ke kamar mandi.

***

Cahaya matahari pagi menembus jendela kamar hotel yang ditempati Soo-ri beberapa hari ini, seolah menggelitik kelopak mata gadis yang masih bergelut dengan selimutnya. Ah, ia lupa menutup tirai kamarnya rupanya semalam. Gadis itu membuka matanya perlahan dan seketika ia mengernyit karena matanya terasa sakit akibat cahaya yang masuk berbondong-bondong ke matanya.

Soo-ri menggeliat dengan malas di atas tempat tidurnya sementara tangan kanannya meraba-raba nakas di sampingnya untuk mengambil ponselnya. Harus diketahui bahwa Soo-ri, Jong-in, Ji-kyung, dan Hyun-joon memiliki sebuah grup di salah satu aplikasi chatting buatan Korea Selatan.

Hal yang ternyata dibahas malam tadi—ketika ia tidur tentunya—membuatnya tersenyum tipis. Foto Jong-in yang sedang tidur dengan mulut yang terbuka lebar dengan air liur yang sepertinya akan mengucur dikirimkan oleh Ji-kyung ke grup itu.

Jangan tanyakan mengapa Ji-kyung bisa memiliki foto itu. Ia sudah berteman dengan Jong-in selama kurang lebih 6 tahun, jadi hal-hal seperti itu dapat ia akses dengan mudah dari member grup Chronicles yang tinggal dalam satu atap, di salah satu apartemen mewah di daerah Apgujeong.

Soo-ri kemudian membangkitkan dirinya untuk duduk dan bersandar. Ia pun mengetikkan sebuah kalimat pada grup itu hingga ia terkikik geli. Oppa2 sangat tampan ketika tidur.

Sedetik kemudian ponselnya berdering nyaring memecah keheningan pagi, “Halo,” Ucap Soo-ri masih dengan tawanya.

Jangan menertawaiku seperti itu. Astaga, itu pasti ulah Jeong-suk hyung3. Benar-benar. Aish…

“Sudahlah, Oppa, kau terlihat tampan di foto itu. Seperti apa ya? Ehm, bayi yang sedang tidur, mungkin?” Soo-ri menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawanya.

Awas kau ya,” Jong-in menghela napas sejenak, “oh iya, hari ini menurut ramalan cuaca akan turun salju.”

Mata Soo-ri membulat, “Benarkah? Salju pertama?”

Tepat sekali. Ah, aku ingin sekali merasakannya bersamamu. Tapi, aku sedang di Busan hari ini untuk fan meeting.”

“Sayang sekali,” Raut wajah Soo-ri berubah kecewa, namun sedetik kemudian ia berbinar kembali seakan mendapatkan sebuah ide, “Aku akan merekam turunnya salju dan membuat vlog.”

Soo-ri turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja samping sofa untuk mengambil air mineralnya.

Vlog?”

“Iya, Vlog. Video yang berisi tentang apa saja dan biasanya di-upload ke Youtube. Semacam Blog tapi dalam bentuk video. Itu sedang trend.” Ucapnya mantap. Ia menegak habis satu botol air mineral.

Aa begitu. Besok perabotanmu datang kan? Aku akan menjemputmu. Jam berapa ya,” Jong-in terdengar sedang bertanya pada manajernya terkait jadwalnya besok, “Jam 12 siang. Mereka datang jam 2, kan?”

“Iya, baiklah. Aku mau bersiap dulu, ya. Momen turunnya salju pertama tidak boleh terlewatkan.” Tanpa menunggu jawaban, gadis itu menutup sambungan teleponnya.

***

“Wah! Huuh dingin.” Gumam Soo-ri seraya merapatkan mantel hitamnya dengan wajah sumiringah ketika ia keluar dari stasiun subway yang membawanya ke Gwanghwamun. Suasana di sana cukup ramai baik oleh orang domestik atau turis. Tidak heran sebenarnya karena hari ini adalah akhir pekan dan daerah ini bisa dikatakan sebagai area yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan asing. Biasanya seperti itu.

Soo-ri berjalan menuju area yang akan menarik perhatiannya. Berapa kalipun ia kesini, Soo-ri tidak pernah bosan. Suasana alam seperti pegunungan, kehidupan modern, maupun bangunan-bangunan bersejarah dari masa kerajaan tampak membentuk harmonisasi yang indah.

Dengan langkah cepat—sekaligus lebar—Soo-ri langsung menuju Sejong Center dan ia terpana melihat kemegahan bangunan ini. Ia ingat bahwa selama ini ia sangat ingin menyaksikan pertunjukkan drama musikal yang memukau baik dari sisi akting para pemainnya maupun suara mereka yang merdu.

Tidak harus di Sejong Center sebenarnya karena masih banyak tempat pertunjukkan lainnya yang biasa menjadi lokasi pertunjukkan drama musikal seperti Seoul Art Center misalnya.

Soo-ri ingat ketika ia datang ke Korea untuk menyaksikan salah satu drama musikal yang dimainkan oleh Kim Junsu pada tahun 2014 tapi batal karena tiket yang sudah ia beli—VIP pula—tanpa sengaja ikut masuk ke dalam mesin cuci.

Gadis itu merogoh tasnya untuk mengeluarkan kamera yang merupakan hadiah ulang tahun ke 24 dari ayahnya tepat 2 hari sebelum ia berangkat ke Korea. 29 November. Soo-ri mengabadikan sudut-sudut bangunan yang sudah mengambil perhatiannya sejak keluar dari stasiun Gwanghwamun. Setelah itu ia mengaktifkan mode videonya dan mulai merekam keadaan sekitar.

“Ehm.. ehem.. test..” Soo-ri membetulkan posisi syal dan topi rajut berwarnanya merahnya. Ketika semuanya dirasa sempurna, ia mulai merekam dan berbicara sekenanya mengenai suasana di sana dan juga opininya untuk nantinya diedit seadanya dan di upload ke Youtube. Supaya ikutan trend masa kini, katanya.

Gadis itu tampak tidak peduli jika orang lain mungkin saja menganggapnya aneh karena berbicara sendiri dengan kameranya dengan bahasa yang tidak mereka mengerti. Soo-ri merekam semuanya mulai dari Sejong Center, Gwanghwamun Gate, hingga Cheonggyecheon yang katanya adalah tempat favorit untuk melamar kekasih.

Tepat ketika ia mendekat pada pinggir sungai ini, Soo-ri melihat kapas-kapas putih berterbangan pada lapang pandangnya. Putih, bersih, dan dingin. Salju pertama! Mata Soo-ri membelalak ketika ia menyadarinya.

“Salju!!!! Waaaaa..”

Gadis itu segera melepaskan sarung tangan putih kirinya untuk merasakan kapas-kapas itu menyentuh permukaan tangannya yang ramping, sementara tangan kanannya memegang kamera yang masih dalam mode ‘on’ sampai saat ini. Beberapa orang lainnya yang berada di sana juga tampaknya melakukan hal serupa dan mengabadikannya pada kameranya.

Soo-ri yang sedang asik merekam momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang—terutama yang biasa tinggal di daerah tropis tentunya—tiba-tiba mendengar bunyi gemuruh dari perutnya.

Ah, ia lupa bahwa pagi tadi ia melupakan sarapannya. Jika diingat-ingat, gadis itu baru meminum sebotol air mineral pagi ini. Merasa kenyang dengan air itu ditambah keasikannya menikmati perpaduan kota modern Seoul dan bangunan tradisionalnya, ia sungguh-sungguh lupa dengan perutnya jika tidak ada alarm seperti itu.

Beruntung kemarin ia membeli beberapa batang coklat yang belum sempat ia makan. Semoga masih ada. Dan… ada!

Soo-ri mematikan kameranya dan menggantungkannya pada leher jenjangnya yang kini tertutup syal tebal. Tentu saja hari ini suhu udara mencapa minus 2 derajat celcius, jadi ia harus menggunakan pakaian tebal jika tidak ingin terkena flu. Maklum saja walaupun memiliki darah Korea, ia tidak tinggal di sini.

“Jangan makan punyaku!”

“Punyamu? Ini punyaku. Punyamu kan sudah kau makan tadi.

“Hyeong!”

Soo-ri menoleh ke arah sumber suara dan ternyata ada sepasang kakak dan adik yang tengah memperebutkan sebuah sandwich. Gadis itu melihat ke kanan dan kiri untuk mencari tahu apakah anak itu hanya berdua atau ada orang lain seraya menghampirinya.

“Halo, anak manis.” Sapanya pada kedua anak tadi. Anak yang tertua hanya menampakkan wajah bertanya sedangkan anak yang lebih muda—yang hampir meneteskan air matanya—menyapanya balik dan tersenyum memamerkan gigi kelincinya.

“Kalian kenapa bertengkar? Kakak dan adik tidak boleh bertengkar, bukan?” Tanyanya tanpa berpikir. Ia sebenarnya juga tidak tahu apakah mereka benar-benar kakak adik atau bukan.

“Huh, habisnya Eun-shik hyung memakan sandwich-ku.”

Anak yang dipanggil Eun-shik itu mendelik dan menatap tajam ke arah anak yang lebih muda.

“Sudah, sudah. Nuna4 punya dua batang coklat. Kalian mau?” Ucapnya seraya menyodorkan dua batang coklat.

Anak yang lebih muda tanpa ragu langsung meraih sebatang coklat itu, namun langsung ditepis oleh kakaknya. “Jangan, Eun-jung! Kata Eomma5 kita tidak boleh menerima makanan dari orang asing.”

Eun-jung membatalkan niatnya dan menarik tangannya, sementara Soo-ri tersenyum maklum.

“Bagus sekali, anak pintar.” Tangan Soo-ri terulur untuk mengusap puncak kepala Eun-shik. “Tapi, kalian tenang saja. Coklat ini aman kok. Nih, nuna punya satu lagi. Ayuk kita makan sama-sama.”

Dengan semangat kedua anak itu meraih coklat yang sedari tadi disodorkan Soo-ri.

***

“Geser ke kanan, ya, ya. Eh, ke kiri sedikit. Ya sudah… Eh, lemarinya sepertinya lebih baik di sisi kanan.” Rangkaian kata-kata itu yang sedari tadi meramaikan suasana apartemen Soo-ri.

Sudah sejak 2 jam yang lalu, seluruh perabotan yang mereka pesan, sampai. Dengan begitu, sudah sejak 2 jam yang lalu juga Soo-ri, Jong-in, dan Ji-kyung sibuk beberes dan berulang kali mengatur tata letak yang rasanya belum pas.

Sebenarnya Soo-ri hanya membeli sebuah sofa panjang dan mejanya, kursi malas untuk di kamarnya, meja belajar dan kursinya, queen size spring bed, microwave, dua buah lemari laci, dan beberapa perlengkapan lain. Namun, Soo-ri, Hyun-joon, maupun Jong-in sedari tadi mengutarakan pendapatnya mengenai lokasi yang tepat untuk meletakkan benda-benda itu dan akhirnya berdebat. Itulah yang menyebabkan pekerjaan mereka tidak selesai dengan cepat.

“Aku ingin ke kamar mandi.” Ucap Soo-ri sambil berlalu dengan terbirit ke kamar mandi. Sementara itu, bel interkomnya berbunyi dan menampakan seorang pria tinggi berwajah oval yang imut yang dibingkai dengan rambut ala pria muda Korea—berponi yang menutupi dahinya—yang sedang tren pada layar interkom.

“Hyun-joon, bagus sekali. Kau datang saat kami sudah selesai.” Jong-in berkata dengan sinis sementara Ji-kyung mengambil 2 kantong belanjaan—yang sepertinya berisi makanan dan minuman—dari tangan Hyun-joon.

“Dingin sekali di luar.” Gerutu pria itu sambil melepaskan sepatunya—tanpa melepaskan kaus kaki. “Maaf, Hyung. Tadi kami harus mengulang adegan untuk video klip karena ada beberapa masalah.” Jelas Hyun-joon yang tidak digubris oleh kedua pria lainnya—dan Soo-ri yang sudah keluar dari kamar mandi—karena mereka sibuk membuka bungkusan plastik yang dibawanya itu.

“Apakah ini untuk kita?” Tanya Soo-ri dengan mata berbinar. Perutnya memang sudah sangat lapar karena kerja keras dari tadi. Bukankah semakin banyak energi yang keluar, semakin banyak pula asupan kalori yang harus di dapat?

Hyun-joon mengangguk. Melihat sinyal hijau itu, mata mereka berbinar dan dengan bringas mengeluarkan kotak-kotak styrofoam berisi jjajangmyeon6 yang masih mengeluarkan uap panas.

“Ye..yah he… a… yi…” Gumam Ji-kyung tidak jelas dengan mulut penuh makanan.

Oppa! Kau menjijikan.” Gerutu Soo-ri karena lengan kanannya terkena semprotan jjajangmyeon dari mulut Ji-kyung. Gadis itu membersihkan lengannya pada celana pendek denim milik Jong-in membuat pria itu menggeram.

“He-hei.”

***

Soo-ri hendak keluar untuk berolahraga sejenak. Udara sudah terlampau dingin jika ia harus berdiam diri di rumah. Kuliahnya masih sekitar 3 bulan lagi dan ia belum memiliki kesibukan apapun saat ini. Tentu saja kesibukan mencari rumah tidak masuk hitungan, bukan?

Gadis itu merutuki kebijakan kampusnya yang memulai pendaftaran di musim gugur. Beruntung waktu itu ayahnya menyuruhnya pulang untuk merayakan ulang tahun ibunya—dan ulang tahunnya beberapa minggu setelahnya—di Indonesia. Jika tidak, ia berarti harus berdiam diri di sini seraya menunggu awal perkuliahan.

Sebenarnya bisa saja ia mencari pekerjaan karena ia masih memiliki status kewarganegaraan Korea Selatan—berkat ayahnya. Ia belum melakukannya bukan karena malas, tapi sejujurnya ia tidak terlalu minat dengan bidang yang sedang digelutinya saat ini. Sekolah bisnis.

Ayahnya pernah berkata bahwa jika kita memiliki hobi, jangan jadikan itu sebagai pekerjaan utama, melainkan pekerjaan sampingan. Sederhana saja, sebagai penangkal rasa bosan dan jenuh. Dan prinsip ayahnya itu juga ia terapkan.

Gelar sarjana yang ia ambil adalah akuntansi dan sekarang ia melanjutkan pendidikannya di sekolah bisnis salah satu universitas ternama di Seoul. Bukan tanpa alasan ia mengambil studi itu, melainkan karena siapa tahu ia bisa membuka bisnis sendiri atau menjadi menteri perekonomian. Entahlah. Ia lebih senang jika disuruh menyanyi atau bermain musik. Ya, ia bisa memainkan piano. Walau tidak sehebat Yiruma—pianis terkenal dari Korea—tapi setidaknya untuk memainkan beberapa lagu yang tidak terlalu sulit, ia bisa.

Soo-ri pernah ikut ekstrakurikuler paduan suara ketika SMA dan bahkan ketika ia menempuh pendidikan sarjananya, ia sudah mengikuti kompetisi internasional di Thailand. Untuk piano, tidak terlalu banyak hal hebat yang terjadi. Hanya ikut dalam sebuah konser yang diadakan oleh sekolah musiknya dan beberapa kali mengiringi di gereja.

Nuna!”

“Eh?” Soo-ri mencari sumber suara itu dan ternyata seorang anak kecil yang sedang memegang sebuah PSP berwarna hitam. “Eun-jung?”

Nuna masih mengingatku? Nuna sedang apa di sini?”

“Tentu saja. Ini tempat tinggalku. Itu rumahmu?”

Mata Eun-jung langsung berbinar, “Benarkah? Berarti kita tetanggaan? Eomma!!!”

Seorang wanita paruh baya langsung keluar ketika mendengar teriakan anaknya. “Ada apa, sayang?”

Eomma masih ingat nuna yang memberiku coklat? Dia ternyata tetangga kita.”

Soo-ri langsung tersipu dan dengan hormat ia membungkukkan tubuhnya untuk menyapa wanita itu.

“Kamu baru pindah?”

Soo-ri mengangguk, “Ya, kemarin.”

“Saya sebenarnya ingin mengobrol lebih banyak denganmu, tapi saya harus pergi. Lain kali mampir ya ke rumah. Saya permisi dulu.”

“Terimakasih, Yoo-ri-ssi7.”

“Wahh, dunia sempit sekali.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

.

.

Keterangan

  1. Ayah
  2. Panggilan oleh wanita yang lebih muda untuk pria yang lebih tua
  3. Panggilan oleh pria yang lebih muda untuk pria yang lebih tua
  4. Panggilan oleh pria yang lebih muda untuk wanita yang lebih tua
  5. Ibu
  6. Mie khas Korea dengan saus kacang kedelai hitam
  7. Bentuk sapaan hormat
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s