Apa kalian tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa? Sebuah rasa yang menyebabkan hatimu bergetar ketika bertemu dengan seseorang yang menyebabkan rasa itu muncul. Selain itu, apakah kalian tahu rasanya mengalami pertemuan tak terduga dengan orang itu? Sebuah pertemuan tak terduga yang sebenarnya sudah kalian harapkan setiap detiknya.

Aku baru saja mengalaminya. Tentu saja, dengan dia yang ku kagumi secara diam-diam. Ah, aku lupa mengatakannya. Kami berada dalam satu lingkungan kerja yang sama. Tidak dalam bidang yang sama, memang. Akan tetapi, kami tetap berada dalam satu gedung yang sama. Jika begitu, kemungkinan untuk bertemu itu ada, bukan?

Hampir setiap hari, di sebuah supermarket dekat pintu keluar, aku menghabiskan waktuku selama 1 jam atau lebih untuk menunggunya lewat karena dia memang selalu pulang lebih lama dariku. Entah apa saja yang ia kerjakan, tapi memang seperti itu adanya. Ya, aku sambil menunggu dijemput oleh kakakku yang bekerja tidak jauh dari lokasi kantorku berada, tidak ada salahnya bukan berharap bertemu dengannya—atau sekedar melihat dari kejauhan.

Jika kalian bertanya, apakah orang yang selalu kutunggu itu mengenalku atau tidak, jawabannya adalah mungkin saja. Kami memang beberapa kali berpapasan. Entah di kantin, supermarket kantor, ataupun di acara-acara yang diadakan oleh perusahaan tempat kami bekerja. bukan suatu interaksi yang membuat kami mengenal satu sama lain.

Aku belum lama mengenalnya. Kira-kira 5 bulan. Kami bertemu—dan sempat berkenalan—pada sebuah acara tahunan yang diadakan kantor. Entah ia masih ingat padaku atau tidak. Tapi aku jelas masih mengingatnya. Sangat mengingatnya.

Hari ini, untuk kesekian kalinya aku menghabiskan waktu untuk duduk di supermarket itu, menghadap ke jalan menuju pintu gerbang, dengan secangkir Caramel Macchiato hangat dan sepotong sandwich yang setia menemaniku.

Setelah satu setengah jam aku menunggu dan kopi serta sepotong sandwich yang ku beli sebelumnya sudah habis, aku berniat menghubungi kakakku karena ia tak kunjung datang.

Kalian tahu apa yang terjadi setelahnya? Ya benar. Sesosok pria dengan tinggi 180 cm, berambut ikal berwarna hitam yang berubah menjadi kecoklatan jika diterpa sinar matahari, serta mengenakan kemeja berwarna hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, masuk ke dalam supermarket tempatku berada dan membeli sebuah Americano tanpa gula.

Tak ada yang terlintas dalam benakku selain perintah untuk mengikuti arah pandanganku pada setiap langkah kakinya hingga langkah pria itu berakhir pada sebuah kursi kosong di sampingku.

“Apakah kursi ini kosong?” Suara beratnya menyadarkanku. Dengan ragu, aku menganggukkan kepalaku diikuti olehnya yang duduk dan membuka laptopnya. Apa dia ingin melanjutkan pekerjaannya? Ah, tidak penting, menurutku.

Aku kini melihatnya dari dekat. Oh, Hidungnya ternyata lebih mancung dari yang selama ini ku duga. Lengannya, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Cukup atletik. Sepertinya ia gemar berolahraga.

“Apakah kau memiliki pengisi daya ponsel?” Lagi-lagi suara berat itu mengagetkanku. Dengan satu gerakan cepat, aku merogoh tasku yang memang sedang terbuka dan mengambil barang yang ia inginkan itu.

“Eh? Oh, ada. Ini,” kataku seraya meyodorkan benda berwarna putih itu kepadanya.

Wajahnya tampak gembira ketika melihatku memilikinya, namun sedetik kemudian ia tampak ragu. “Ehm, tapi apakah kau masih lama di sini? Kulihat tadi sepertinya kau hendak pulang?”

Aku teringat bahwa aku memang sudah hampir berdiri ketika ia datang. Itu karena aku ingin membeli cemilan lagi. Tapi aku cukup terkejut juga menyadari bahwa ia mungkin saja memperhatikanku. Ah, jangan berharap.

“Tidak apa-apa. Pakai saja dulu. Aku belum berniat untuk pulang. Kakakku belum datang. Sepertinya ia akan terlambat. Kau tahu, ini hari Jumat. Jalanan macet.”

Ia tersenyum dan meraih pengisi daya itu. “Terimakasih. Aku pinjam sebentar saja. Tadi aku lupa untuk mengisi dayanya. Baru sadar ketika sudah berada di luar gedung. Tidak mungkin bukan jika aku kembali lagi hanya untuk mengisi daya ponselku? Itulah mengapa aku ke sini. Tapi, ketika sudah di sini, aku malah baru ingat jika aku tidak membawa pengisi daya ponsel milikku.” Ia menjelaskan panjang lebar seraya menghubungkan ponselnya itu pada aliran listrik.

Aku hanya terdiam, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Manis. Hanya itu yang ada dalam pikiranku dan hampir ku realisasikan pada kata-kata yang keluar dari mulutku.

Setelah kalimat panjang yang ia katakan padaku, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara kami. Ia hanya mengutak-atik laptopnya dengan serius.

Aku suka melihatnya sedang serius seperti saat ini. Alisnya yang bertaut membentuk sebuah kerutan di dahinya, matanya yang tajam, dan kakinya yang mengetuk lantai mengikuti alunan lagu di dalam supermarket ini. Ternyata ia memiliki kemampuan multitasking. Aku rasa, aku tersenyum terus-menerus, karena ketika aku terlepas dari lamunan, pipiku terasa pegal dan panas.

Bunyi ponsel bernada sederhana menghancurkan fokus pria di sampingku. Ia langsung meraih benda kotak itu dan mendekatkannya ke telinga kanannya.

“Halo,” katanya. Ia hening sejenak untuk mendengarkan ucapan seseorang di seberang telepon, “oh sudah sampai? Baiklah aku segera ke sana.”

Ia menutup laptop yang belum lama ia nyalakan itu dan memasukannya ke dalam laptop. Ia mengernyit sesaat dan memiringkan kepalanya sedikit, lalu seakan baru teringat akan sesuatu, pria itu mencabut pengisi daya telepon genggam milikku dan mengembalikannya.

“Terimakasih,” ucapnya dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya dan nyaris menenggelamkan bola matanya. Manis sekali, pikirku. Tak lama aku terlena dengan senyumnya, aku langsung menarik diriku kembali ke alam sadar.

“Ah, iya sama-sama.”

“Aku pergi duluan, sudah dijemput. Ah, itu dia isteriku.”

Jujur saja, kata-katanya barusan membuatku sedikit terkeju. Ah tidak, sangat terkejut lebih tepatnya. Dengan memasang wajah—yang dicoba—seramah mungkin, “Oke, baiklah, hati-hati, sampai jumpa.”

“Ya, sampai jumpa,” katanya dengan tergesa-gesa.

Bola mataku, tanpa kuperintahkan mengikuti kemanapun pria itu pergi. Kulihat ia menghampiri sebuah sedan merah yang sedang menepi tepat di seberang supermarket tempatku berada. Tampak seorang wanita yang terlihat tidak terpaut usia terlalu jauh denganku keluar dari sedan tersebut. Pria itu menghampirinya dan mengusap perlahan puncak kepala wanita yang diakui sebagai isterinya dan kemudian masuk ke dalam mobil untuk mengambil alih kemudi.

Jadi, ia sudah memiliki isteri.

Ponselku berdering tak lama kemudian, Ketika ku angkat, suara berat milik kakakku mengatakan bahwa dirinya sudah sampai. Ya, itu dia. Aku dapat melihatnya. Berhenti tepat di belakang sedan merah tadi yang baru saja melaju.

 

 

 

Advertisements

One thought on “Sedan Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s