kopi di pagi hari2.jpg

Semerbak harum kopi yang berpadu dengan aroma roti panggang memenuhi apartemen yang di huni Kai dan kedua temannya. Baginya secangkir kopi di pagi hari akan membuatnya bisa melwati harinya dengan mudah. Rasa pahit yang menyegarkan dan aroma yang menenangkan. Kedua hal itulah yang ada di benak gadis bermata coklat dan rambut yang ikal yang terjuntai hingga pinggang sejak 2 tahun yang lalu.

Sementara Kai menuangkan kopi panas itu dari french press-nya ke dalam cangkirnya, tampak seorang gadis tengah berjalan dari arah kamar yang terletak persis di depan kamarnya. Gadis itu berjalan dengan mata setengah tertutup dan sesekali menguap lebar.

“hmmm.. aroma kopi di pagi hari.” Gadis itu tersenyum dan mengumpulkan seluruh kesadarannya ketika aroma kopi memasuki lubang hidungnya. Ia lapar.

“Kau sudah bangun?” Tanya Kai pada gadis yang tengah berjalan ke arahnya dengan raut wajah kelaparan. “Oh ya, Kimmy di mana? Belum bangun? Tsk..tsk..” Ucapnya seraya menggelengkan kepalanya dan fokus pada kegiatan menyiapkan sarapannya.

Mona menggedikkan bahunya lalu menatap penuh minat pada setumpuk roti panggang yang kini berada di tangan Kai. Kai tersenyum dan menyodorkan piring itu di hadapan gadis itu, “Makanlah.”

Mona mengambil selembar roti itu dengan semangat, lalu meletakkan selembar keju dan daging asap. Tidak lupa juga ia menambahkan selembar daun selada dan irisan tomat di atasnya dan menutupnya kembali dengan selembar roti lain.

Mona tampak mendengus ketika ia tengah menikmati aroma kopi dan roti panggang di hadapannya karena nyamuk yang tanpa permisi memasuki rongga hidungnya. Berulang kali Mona berusaha mengeluarkan nyamuk kurang ajar itu dari hidungnya namun tidak berhasil. Sementara Kai yang baru akan duduk di kursinya menatapnya jijik namun tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan gadis itu.

“Hei! Kalau mau ngeluarin ingus, di sana tuh.” Ucap Kai kemudian sambil menunjuk wastafel yang berada tak jauh dari tempatnya yang dibalas dengan tatapan menusuk dari Mona.

Belum sempat gadis bernama Mona beranjak, nyamuk yang telah mengusik paginya itu sudah berhasil keluar. Senyum puas dan penuh kemenangan itu tercetak jelas dalam wajah ovalnya. Gadis itu kemudian melanjutkan makannya.

“Kau mau kopi?” Tanya Kai.

Mona menggeleng, “Setiap hari kau menawariku kopi dan setiap hari juga aku menolaknya dan mengatakan bahwa aku tidak menyukai cairan pahit berwarna pekat itu.”

Kai menggedikan bahunya dan menyesap kopi yang dikatakan pahit itu. “Tapi kau terlihat menikmati aroma khas cairan pahit ini.”

“Yah, aku memang menyukainya. Dengan menghirupnya saja aku merasa relaks. Andai saja rasa kopi itu manis, aku pasti tanpa ragu akan menyesap seluruh kopi yang kau miliki.”

Kai mendelik, “Hei, kau tidak harus menghabiskan persediaan kopiku,” Gadis itu meraih roti panggang dihadapannya dan mengolesnya dengan selai kacang kesukaannya, “Tapi, bukankah kau bisa menambahkan sesuatu yang manis ke dalam kopimu.”

Mona mengangguk dengan mulut penuh makanan. Setelah ia mengosongkan rongga itu, ia berkata, “Tetap saja. Rasa pahitnya tetap ada. Mungkin memang tertutupi dengan manisnya sirup atau susu mungkin. Tapi pahit itu tidak akan hilang, kau tahu.”

Kai menyerah, “Yah, kau benar.” Matanya menatap pada tirai putih yang belum tersingkap—menghalangi cahaya matahari yang mendesak masuk.

Gadis berambut ikal itu beranjak dari kursi dengan membawa cangkirnya dan berjalan menuju tirai yang tertutup. Ia menyingkap tirai itu, membuat seisi ruangan ini diterpa cahaya matahari pagi yang berada tepat di depannya.

Ia kembali menyesap kopinya, “Tapi, definisi pahit menurut setiap orang itu berbeda. Bagiku, kopi ini terasa manis walau tanpa gula sekalipun. Yah memang tidak semanis coklat panas yang biasa kau minum di malam hari.”

“Tentu saja.” Mona kemudian menoleh pada pintu yang baru saja terbuka, “Hei lihatlah sekarang, putri tidur kita baru saja keluar dari mimpi indahnya.”

Kai tersenyum dan kemudian menatap jam yang terletak di samping pintu kamarnya, “Aku harus segera bersiap. Sepertinya aku terlambat pagi ini.” Ucapnya ringan. Kai meletakkan cangkir yang sudah kosong pada wastafel dan berjalan ringan menuju kamarnya.

“Ya, ya, ya nyonya besar itu pasti akan menerkamu hari ini karena terlambat datang ke butiknya.” Ucap gadis yang masih tampak setengah sadar itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s