amplop.png

Suara ledakan ban, decitan rem, dilanjutkan dengan perpaduan bunyi dentuman keras yang sahut menyahut—membentuk paduan suara mengerikan—memecah keheningan malam musim gugur ini. Sebuah sedan yang sebelumnya tengah melaju dengan tangguh di jalan sepi kini tampak teronggok di tengah jalan yang gelap dan sepi dengan posisi terbaik, kap yang terbuka, kaca jendela yang hancur berantakan dan tersebar begitu saja di sekitarnya.

Tampak di dalamnya seorang pria berusia akhir 20 tahunan bersimbah darah dengan lengan yang terkulai keluar yang masih ‘terjaga’ oleh sabuk pengaman penjaganya. Beruntung pria itu tidak terlempar keluar dan akhirnya seluruh tulang di tubuhnya patah. Setidaknya seperti itu, walau sebenarnya keadaannya saat ini juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Sebuah kijang tiba-tiba berhenti di samping sedan yang bentuknya sudah kacau itu. Segerombolan orang berpakaian setelan jas dan sepatu yang mengkilap—empat orang, keluar turun dari kijang itu dan menghampiri pria yang tidak diketahui apakah nyawanya masih betah di dalamnya atau tidak.

“Bagaimana?” tanya seseorang dengan kepala botak plontos dan berkulit putih—Luke—kepada seseorang yang sedang memeriksa kondisi si pria mengenaskan.

Pria dengan tatanan rambut klimis dan rapi belah kanan berwarna coklat tua—yang bernama George itu menggedikan bahunya, “Ia masih hidup.”

Pria lain bernama John mendengus dan mengacak rambut pirangnya dengan kasar, “Kita harus mendapatkannya kembali bagaimanapun caranya. Beraninya ia.”

“Tapi, Bagaimana kalo ia mati? Tidakkah semua ini sia-sia?” Seseorang bernama Danny berkata dengan acuh.

John tampak naik pitam, wajahnya merah menahan amarah, pria itu tidak boleh mati. Baru saja ia ingin melayangkan berbagai umpatan kasar pada orang yang berkata demikian, namun George membuatnya mengurungkan niat itu.

“Ia yang mengalami kecelakaan ini sendiri. Bukan kita yang membuatnya seperti ini.” George menyentuh lengan yang terkulai itu dan mengusapnya lembut namun dengan tatapan yang dingin. “Kalian, ingat kalau sampai ia mati, kita tidak akan dapat apa-apa. Apapun penyebabnya.” Lanjut George.

John kemudian mengutak-atik ponselnya untuk mengetik sebuah nomor. Ia harus menghubungi ambulance secepatnya untuk membawa seseorang ke rumah sakit yang sudah ia percayai untuk mengemban tugas ini. “Ayo kita pergi, masih banyak tugas yang harus kita selesaikan.”

John membalikkan badan dan Danny dengan tangan putih pucatnya membuka pintu terlebih dahulu dan masuk ke dalamnya. Akan tetapi, sebelum masuk, tampaknya John menyadari bahwa masih ada di antara mereka yang tidak menurut dengan ucapannya. “Tunggu apa lagi? Mengenai dia, sudah ada yang mengurus. Lagipula saat ini ia tidak bisa apa-apa. Kita tanyakan nanti kalau ia bisa selamat.” Katanya dengan nada yang masih berapi-api. Dalam benakknya ia merutuki dirinya sendiri.

***

George tampak berdiri diam dengan dokter berambut keemasan di dalam sebuah ruang perawatan intensif yang hanya terdiri dari dirinya, dokter itu, dan Mike. Suhu diruangan itu cukup dingin ditambah juga udara di luar yang tampaknya sekitar 5 derajat celcius.

George tidak henti-hentinya menatap pria yang terbaring di kasur rumah sakit dengan berbagai peralatan medis yang melekat pada tubuhnya—membuat pria itu tampak semakin rapuh.

“Dia, apa dia akan mati?” Ucapnya dingin dengan mata menatap lurus pada sosok itu.

Dokter berambut keemasan itu terdiam cukup lama hingga akhirnya menjawab, “Sejujurnya aku tidak tahu ia akan mati atau tidak. Tapi kemungkinan itu jauh lebih besar dari kemungkinan ia hidup. Otakknya terluka parah.”

Setelah dokter itu berkata demikian, keheningan kembali melanda hingga menyisakan suara sebuah monitor yang menandakan bahwa orang yang tengah berbaring itu masih memiliki nyawa. Berulang kali pria bernama George menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.

***

“Bodoh, jika saja kita tidak mengikuti idemu untuk mengejarnya, ia tidak akan mengemudi seperti orang kesetanan.” John mengarahkan lengan kekarnya pada tembok beton yang berada di sisinya itu, meninjunya dengan kerasa hingga buku-buku jarinya kemerahan nyaris terluka.

Danny mendelik, “Apa? Kenapa aku? Aku hanya berpendapat.” Balasnya dengan acuh. Ia mengibaskan rambut keemasannya kemudian kembali bersandar pada sofa berwarna coklat tua dan menyilangkan kakinya untuk melanjutkan aktivitas membacanya yang terhenti karena ucapan pria tanpa rambut itu.

George berjalan dengan santainya dari dapur di balik tembok beton yang ditinju oleh John. Ia mendekati pria berambut pirang itu dengan tatapan datar. Ujung jari pria berambut berambut coklat tua itu menyentuh pundak John perlahan lalu mendorongnya dengan sekali hentakan, lalu berbalik menghadap Danny yang sedang tampak santai membaca buku fiksi bergenre horror itu.

“Aku sependapat dengannya,”Ucapnya sambil menggedikkan ujung dagunya pada Danny, lalu dengan tiba-tiba mendelik ke arah John, “Kau bahkan tidak sadar ketika ia pergi menemui pengacaranya minggu lalu, dan kau berani menyalahkan orang lain?”

John kembali teringat ketika ia berkata bahwa ia yang akan mengurus semuanya dan meminta semuanya untuk tenang hingga 3 hari yang lalu ia mengetahui bahwa pria yang menjadi pembicaraan utama mereka selama beberapa bulan ini telah menemui pengacaranya dan menandatangani semuanya. Ia terlambat mengetahuinya. Mereka terlambat.

Ketika hari kecelakaan itu, John melihatnya membawa sebuah amplop besar berwarna coklat ke dalam mobilnya. Tentu ia mengira bahwa orang itu memang menyimpannya di dalam mobil sehingga ia segera menghubungi 3 orang lainnya untuk membantu memaksanya untuk membatalkan semuanya.

George yang terlihat tenang, sebenarnya sedang menyusun berbagai puzzle dalam benaknya. Apa yang harus dilakukannya ketika orang itu mati ataupun hidup. Ya, ia kembali teringat pembicaraannya dengan dokter berambut keemasan kemarin malam. Kenyataannya adalah terdapat cedera parah pada otaknya.

***

Tampak pria tinggi tanpa rambut, tengah berbicara dengan seseorang bersetelan jas lengkap yang membawa tas tangan berbentuk kotak yang berisi berbagai dokumen penting di sebuah koridor yang sepi. Pembicaraan mereka tampak sengit karena ekspresi keduanya tampak mengeras dengan rahang yang dikatupkan kuat ketika lawan bicaranya sedang mengutarakan sesuatu, begitu juga sebaliknya. Berulang kali tampak dari mereka menghembuskan napas kasar.

***

“Bagaimana kabarmu?” Tanya George dengan datar. Ia berhenti sejenak dan kemudian menghela napas untuk melanjutkan, “Kenapa harus kau lakukan? Tidakkah itu sangat buruk?”

Gemuruh dalam hatinya tidak bisa ia cerna dengan baik. Entah perasaan seperti apa yang sedang ia rasakan saat ini. Tampaknya, akal sehat dan perasaannya sedang tidak sejalan saat ini. George kemudian berdiri dan menatap sosok yang masih betah untuk menutup matanya itu dengan sorot prihatin. Bukan lagi tatapan dingin yang ia berikan selama ini. “Sepertinya sebaiknya kau mati saja, mereka sudah benar-benar gila karenamu.”

Setelah mengatakan hal itu, pria itu berbalik menuju pintu dan pergi. Ia tidak pernah datang lagi. Tak ada yang dapat ia dan yang lainnya lakukan. Selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s