new.jpg

Angin musim dingin menerpa wajah pria berkulit putih pucat yang tengah duduk di halte bus dekat tempat tinggalnya. Hidung dan telinganya sudah tampak merah. Siapa juga yang akan duduk diam disaat musim lagi dingin-dinginnya—di malam seperti saat ini—tanpa tujuan apapun? Tapi tampaknya pria itu tidak mempedulikannya. Beberapa orang memang tampak berlalu lalang di depannya, orang di sampingnya pun sudah bergantian karena yang sebelumnya telah menemukan bus yang akan menghantarkannya ke rumah. Sedangkan pria ini hanya duduk diam sejak turun dari bus 3 jam yang lalu.

Pria itu tampak menoleh ke kanan dan ke kiri dan seketika ia menengadahkan kepalanya yang sedari tadi hanya ditundukkan, lalu berdiri. Perlahan ia melangkah menuju sebuah warung tenda yang tidak jauh dari tempatnnya itu.

Sekarang, beberapa botol soju sudah berada di hadapannya. Pria itu membuka botol itu dan menuangkannya ke gelas kecil yang berada di genggamannya. Ia merasa ia sangat membutuhkan alcohol saat ini Ia terus menuangkan minuman beralkohol itu dan meminumnya.

Setelah menghabiskan 2 botol soju, ia berhenti sejenak. Air mata turun melintasi pipinya yang sudah berubah warna menjadi kemerahan. Perlahan ia mengarahkan pandangannya pada sebuah jam tangan bermerek yang melingkar di lengannya. Dengan hati-hati ia merabanya dan tersenyum miris. Semua sudah tak sama lagi, pikirnya. Ia memandang sekeliling dan sekali lagi ia tersenyum miris.

Pria itu kemudian memutuskan untuk berhenti minum, dan beranjak dari tempat itu. Jalanan sudah mulai sepi walau sebenarnya tidak bisa dikatakan sepi. Hanya lebih sepi. Ia melangkah menuju sebuah butik yang cukup terkenal dan berdiri di depannya. Tentu saja butik itu sudah tutup. Segala kenangan melintas di benak pria yang sekarang tampak rapuh bagi siapa saja yang melihatnya.

***

“Junshik, bagaimana menurutmu?” Mata berwarna coklat muda itu tampak berbinar ketika menunjukkan karya-karyanya kepada pria dihadapannya.

Junshik tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala gadis itu, “Tentu saja kau yang terhebat.”

“Bukan itu maksudku. Kalau tentang itu aku sudah tau sejak dulu,” Gadis itu kemudian tersenyum percaya diri, “Tapi, mana yang lebih baik?”

Junshik mengangkat kedua alisnya dan kembali menatap dua lembar kertas yang disebut sebagai mahakarya itu. Dengan telunjuknya, ia mengusap bibirnya—kebiasaannya ketika ia sedang berpikir, dan menggunakan telunjuk itu untuk menunjuk pilihannya, “Menurutku yang ini. Sederhana namun tampak berkelas. Cocok sekali dengan image model itu.”

Minji berdiri dengan semangat dan berjalan menghampiri salah satu karyawannya dengan sedikit berlari. Sebelum gadis itu sampai, ia menoleh kembali kepada Junshik yang ia tinggalkan di meja dekat pintu, dan berjalan kembali menuju pria itu, “Sudah kuduga, aku juga menyukai yang ini.”

Junshik tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Gadis itu selalu seperti ini. Ia merasa Minji adalah gadis yang dipilihkan Tuhan untuknya. Ia selalu merasa bahagia di dekatnya karena gadis itu selalu menebarkan aura kebahagiaan bagi orang disekitarnya. Sikapnya yang seolah-olah tidak pernah sedih, wajahnya yang manis dengan lesung pipi di kedua pipinya, rambutnya yang ikal berwarna coklat tua, dan matanya yang tampak bersinar, merupakan perpaduan yang unik dari gadis ini.

Pria itu hanya memperhatikan Minji ketika gadis itu tengah menyampaikan idenya yang menurutnya brilliant kepada beberapa karyawan yang ada di butik itu. Lagi-lagi seperti ini, Minji tampak lupa bahwa Junshik sedang menunggunya untuk pulang bersama, kebiasaannya sejak 3 tahun ini. Sepulangnya dari kantor, Junshik akan berkunjung ke tempat ini jika memang ia tidak ada rapat atau acara di luar kota, dan menunggu gadis itu hingga butiknya tutup. Sesekali bahkan ia harus menunggunya ketika gadis itu sedang merasa sangat kreatif sehingga ia merasa tidak ingin menyianyiakan ke kreativan otaknya itu dengan pulang cepat. Gadis itu memang jarang bisa berpikir di rumahnya. Otaknya baru akan bekerja jika berada di tempat umum, baik itu butiknya sendiri maupun tempat umum lainnya.

***

Junshik sedang menunggu Minji di sebuah restaurant. Ia ingin mengungkapkan semuanya saat ini. Ia tidak ingin terlambat. Minji harus tau perasaannya dan berharap gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya.

Junshik menatap sebuah kotak kecil berwarna keemasan itu sekali lagi dan memantapkan hatinya. Ia melirik arlojinya dengan menghela napasnya. Sudah 1 jam ia menunggu. Bukan karena ia datang terlalu awal seperti yang biasa terjadi di kisah romantis—ketika sang pria akan datang beberapa jam sebelumnya untuk mempersiapkan segalanya, tapi ia hanya datang tepat waktu dan Minji yang terlambat. Gadis itu belum datang. Rasa khawatir kini menjalari pikirannya.

Junshik meraih ponselnya yang tergeletak di meja—di sisi gelas wine-nya. Jari-jarinya menari untuk mengetik angka-angka yang sudah ia hafal di luar kepala dan kemudian menunggu telepon itu diangkat.

Junshik cukup terkejut hingga mengernyitkan dahinya ketika gadis itu mengangkat teleponnya dengan menangis. Rahangnya mengeras dan tangannya yang tidak memegang ponsel menggenggam erat pinggiran meja. Ia segera mencoba menghilangkan segala pikiran buruk yang merasukinya, “Minji ada apa?”

Junshik…” Suara di seberang telepon itu tampak bergetar. Sangat nyata bahwa gadis itu menangis.

“Kau di mana?” Tanya Junshik tanpa basa-basi lagi.

“Aku.. aku.. di rumah sakit. Ak—”

Junshik segera memotong, “Rumah sakit? Rumah mana?”

Junshik tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya. Ketika Minji memberi tahu lokasinya, ia langsung berdiri dan menyematkan beberapa lembar uang di bawah gelas wine-nya dan melangkah menuju mobilnya dengan tergesa-gesa.

***

Kini Junshik berlari mencari tempat di mana gadis itu berada. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang gadis sedang duduk di lantai koridor rumah sakit dengan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Menyadari siapa gadis itu, Junshik langsung berlari dan memeluk gadis itu. Ia kemudian memegang kedua pipi yang penuh dengan jejak air mata itu. Dengan menatap lurus pada kedua mata Minji, Junshik bertanya, “Ada apa? Hmm?”

Minji kembali menangis, namun kini hanya air matanya saja yang mengalir tanpa bisa ditahan. Junshik kembali merengkuh gadis itu dalam pelukannya—berusaha menenangkannya, “Hei.. tenang, aku di sini. Apa kau sakit?”

Minji kemudian mendorong tubuh Junshik perlahan dengan kedua tangannya, “Junshik, bukan aku yang sakit. Aku tidak apa-apa.”

Junshik menatap gadis itu dengan bingung, “Lalu?” Tanyanya dengan nada penuh kelembutan.

Minji menatap pintu ruang Unit Gawat Darurat yang berada di hadapannya dengan tatapan nanar. Ia kemudian berkata dengan datar, “Joe. Joe yang di dalam sana.”

Junshik mengernyit, “Joe? Model yang bekerja sama dalam proyekmu itu?”

Minji mengangguk lemah, air mata masih mengalir sesekali dari matanya. Ia menghela napas dalam, “Ada kecelakaan di pemotretan hari ini. Aku.. aku tadi hendak mengantarkan pakaian yang sudah aku perbaiki, tapi.. tapi…” Tangis gadis itu kembali pecah. “Sebuah properti terjatuh dan menimpa kepalanya. Ia berdarah. Itu salahku.”

“Semua itu sudah terjadi, Minji. Bagaimana bisa kau menyebut ini salahmu?”

Minji menggeleng cepat, “Kalau saja aku lebih hati-hati, ia tidak akan tertimpa guci itu. Aku yang menyebabkannya terjatuh.”

Junshik tidak berkata apa-apa lagi, hanya merangkul tubuh Minji yang masih bergetar, dan menunggu hingga para dokter selesai memeriksa ataupun memberi tindakan. Niatnya yang sudah ia kumpulkan matang-matang, ia urungkan terlebih dahulu.

***

Junshik terpaku menatap layar televisi yang kini menampakkan seorang model yang cukup ia ketahui. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan orang itu, hingga ia mendengar sebuah nama yang sangat dikenalnya.

Bisa anda jelaskan mengenai hubungan anda dengan nona Minji?” Tanya seorang pembawa acara pada pria berpostur tinggi dan atletis yang tampak sangat fashionable itu.

Joe tampak tersenyum lebar menampakkan giginya yang putih, “Kami akan menikah 2 bulan lagi.

Junshik mengeraskan rahangnya dan duduk kaku di tempatnya. Ia terlalu terkejut mendengar hal ini. Sejak kejadian itu tiga bulan yang lalu, ia memang belum bertemu Minji karena ia harus mengerjakan sebuah proyek pembangunan jembatan di luar kota. Baru seminggu ini ia kembali dan belum sempat bertemu dengannya karena gadis itu maupun dirinya sedang cukup sibuk. Tapi, walau begitu, kenapa Minji tidak memberitahunya mengenai hal ini? Mereka cukup sering berkomunikasi via telepon maupun e-mail.

***

“Junshik, maaf aku tidak memberitahumu soal ini. Aku ingin memberitahumu secara langsung karena ini kabar gembira.” Ucap gadis itu dengan senyum bahagianya.

“Sejak kapan?” Tanya Junshik dengan datar.

“Eh?” Minji mengangkat alisnya, mengusap tengkuknya dan tersenyum malu, “Satu bulan sejak kejadian itu, kami memutuskan untuk berkencan. Aku tidak tahu jika kau pulang selama itu. Tapi aku tetap ingin memberitahumu secara langsung,” Minji menghentikan kata-katanya ketika ia melihat raut kecewa dari wajah Junshik, “Maaf, tapi, untuk pernikahan kami memang baru merencakannya 1 minggu sebelum wawancara di televisi itu kok.” Minji berusaha mengeluarkan cengiran kudanya.

Bukan itu maksudku. Kau tahu? Aku mencintaimu. Junshik mencoba menahan kekecewaannya dengan senyuman lembut—seperti biasanya. “Aku turut senang jika kamu senang. Aku harap ia mencintaimu dengan tulus dan kalian bisa bahagia.”

Minji membulatkan matanya ketika ia menatap arlojinya, “Aku hampir lupa, aku ada janji makan malam dengan Joe hari ini. Kau mau ikut?”

Junshik tersenyum miris. Bagaimana mungkin ia bisa berada di antara kedua kekasih itu sementara ia mencintai salah satunya. Kemudian Junshik menggeleng dan menggenggam tangan gadis itu. Ia menatap mata indah itu sungguh-sungguh, berusaha menahan dirinya untuk tidak mengatakan kata-kata yang akan ia sesali nanti.

Setelah puas menatap kedua mata itu tanpa kata, ia melepas genggamannya dari tangan gadis itu dan beranjak. “Kalian saja, aku harus pergi sekarang. Semoga berbahagia.” Ucapnya dengan nada dibuat seringan mungkin dan tangan kanannya mengacak rambut Minji.

Sebelum pria itu pergi, Minji meraih lengan pria itu—membuatnya menoleh bingung, “Junshik, tapi kau akan datang kan? Ke pernikahanku?”

Bagaimana mungkin, pikir Junshik. “Entahlah. Ada proyek yang harus aku jalankan saat itu.” Ucap Junshik sambil tersenyum. Ia melepaskan tangan mungil itu dari lengannya, “Sampai jumpa.” Junshik pun beranjak pergi melewati pintu meninggalkan Minji yang tampak merengut kecewa.

Dada pria itu terasa sesak. Jauh lebih sesak daripada ketika ia mendengar berita itu pertama kali di televisi. Ia sama sekali tidak berniat datang ke pernikahan itu.

***

Junshik menatap ponselnya yang kini menampakkan wajah bahagia dari pasangan itu. Hari ini, Minji dan Joe menikah dan Junshik memang tidak datang. Bahkan ia merasa Minji mungkin saja tidak akan peduli ia akan datang atau tidak. Bus yang ditumpanginya sedang melaju menuju tempat tinggalnya.

Sudah sepuluh menit sejak ia melihat foto itu dari salah satu media sosial milik gadis itu, dan kini ia sudah sampai dan sedang duduk di halte bus dekat tempat tinggalnya. Pria itu tidak tampak akan beranjak dari sana hingga 3 jam kemudian ia beranjak dari sana menuju sebuah warung tenda yang berada di persimpangan jalan.

Ia menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu. Tempat yang sering ia kunjungi dengan gadis itu ketika mereka pulang bersama karena lokasinya yang memang berada dekat dengan tempat tinggal mereka dan butik milik Minji. Kenangan-kenangan mengenai Minji terus mengalir dalam benaknya tanpa bisa ia hentikan. Trotoar, warung tenda, bahkan pohon di sudut jalan itu telah mengandung kenangan mereka.

Setelah menghabiskan 2 botol soju, ia beranjak dan tanpa ia sadari, langkahnya kini menuju sebuah butik yang kini sudah tutup—karena pemiliknya sedang melangsungkan hari bahagianya.

Junshik menatap nanar pintu yang tertutup itu berharap pemiliknya keluar dan mengatakan bahwa ini adalah mimpi. Tapi, nyatanya tidak ada seorang pun yang keluar. Seluruh pegawainya bahkan tengah hadir di acara itu.

Pria itu mengeluarkan sebuah gulungan kertas dengan cincin yang disematkan pada gulungan itu sebagai pengikatnya dan meletakkannya di pot bunga dekat pintu masuk. Tidak peduli apakah gadis itu akan menemukannya atau tidak. Kalaupun menemukannya, tidak peduli juga apa respon gadis itu. Ia hanya ingin memberi tahu gadis itu tentang yang ia rasakan selama ini dan ia tidak akan pernah menemui gadis itu lagi. Junshik sudah berencana untuk pindah ke Kanada dan tinggal bersama ibunya di sana. Minggu depan adalah hari keberangkatannya.

***

Sebuah mobil kini melaju kencang di jalan Seoul. Kecepatan mobil itu tampak tidak lazim pada jalanan yang masih cukup ramai ini. Seoul tentu tidak akan pernah tidur. Pengemudi mobil itu tampaknya sedang sedikit mabuk karena berulang kali menuturkan kata-kata yang tidak jelas pada penumpang lain di sampingnya yang sepertinya juga mabuk.

Tiba-tiba mereka terkejut karena ada seorang pria yang melintas di depan mobilnya dengan jarak yang cukup dekat. Tentu saja bukan pria itu yang tiba-tiba melintas, melainkan mereka yang tidak menyadari bahwa lampu sudah berubah merah. Dengan secepat mungkin pengemudi itu berusaha menginjak rem, namun jarak yang terlalu dekat membuat hal itu seolah sia-sia. Kini, tubuh seorang pria tergeletak bersimbah darah dengan radius 10 meter dari mobil yang menabraknya itu. Tanpa berusaha memeriksa kondisi pria yang ditabraknya, ia kembali melajukan mobil itu menghindari lokasi kejadian dengan secepat mungkin.

***

Langkah kaki terdengar jelas ditengah sepinya koridor rumah sakit. Laura yang saat itu baru saja membersihkan diri setelah acara resepsi yang cukup melelahkan, tiba-tiba dikejutkan dengan telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa Junshik mengalami tabrak lari. Minji langsung meminta pada Joe—suaminya—untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

Sesaat ketika mereka sampai di depan Unit Gawat Darurat, seorang pria paruh baya dengan jas putih keluar dari ruangan itu dengan wajah yang sangat lelah. “Keluarga Tuan Lee Junshik?”

Laura langsung menghampiri seseorang yang berprofesi sebagai dokter dan menanyakan kondisi pasien yang berada di dalam ruangan itu. Pria paruh baya itu menggeleng dan menepuk pundak Minji. Seketika kaki Minji terasa lemas, namun ia ingin mendengar sendiri kondisi orang itu dari mulut dokter tanpa menerka-nerka sendiri. Dokter itu tahu bahwa wanita dihadapannya ini sedang menuntut jawaban darinya.

“Mohon maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi luka-lukanya sangat parah, bahkan beberapa tulang-tulangnya patah termasuk tulang rusuknya. Paru-parunya sobek, dan ia juga mengalami pendarahan hebat. Kondisinya sudah sangat kritis ketika di bawa ke rumah sakit. Kami harap anda bisa tabah,” Dokter yang diketahui bernama Jung Jaemin itu tersenyum menenangkan, “Saya permisi.” Dokter Jung kemudian pergi meninggalkan Minji yang kini jatuh lemas tepat ketika dokter itu pergi.

Joe merengkuh istrinya itu dalam pelukannya, membiarkannya menangis. Ia tahu bahwa Junshik adalah seseorang yang cukup berarti bagi istrinya. Mereka sudah bersahabat selama beberapa tahun, dan Junshik juga mengenal Minji lebih dahulu. Joe tidak merasa keberatan dengan hal itu. Bahkan ia tahu bahwa Junshik memiliki perasaan dengan Minji walaupun sepertinya istrinya itu tidak menyadarinya. Cintanya pada Minji lebih besar daripada rasa tidak nyamannya.

***
Sunbae, aku menemukan ini di pot bunga depan butik.” Ucap salah satu karyawannya sambil menyodorkan gulungan kertas yang disematkan cincin itu.

Perlahan Minji melepaskan cincinnya dan melihat namanya terukir di sisi dalam cincin itu. Ia terhenyak dan bingung. Buru-buru ia membuka gulungan kertas itu dan membacanya. Kata demi kata ia resapi dan hatinya terasa sakit ketika membacanya. Air matanya mengalir seiring semakin banyak kata-kata yang masuk ke dalam pikirannya. Ia merasa bersalah. Jika saja pria itu mengutarakannya lebih dulu, ia pasti akan menerimanya. Sejujurnya, ia juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, penantiannya tidak kunjung ada jawabannya. Dan nyatanya, takdir tidak mengijinkan mereka untuk bersatu karena Joe kemudian hadir dan merebut hati Minji.

***

Minji, aku tidak tahu apakah kamu akan menemukan surat ini atau tidak, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang sudah aku pendam sejak lama kepadamu sebelum semuanya terlambat. Walaupun aku tahu aku sudah terlambat. Tapi maksudku adalah sebelum kita tidak akan bertemu lagi di masa yang akan datang.

Minji, sejak pertemuan pertama kita, aku sudah tertarik padamu. Matamu, senyummu, sikapmu, semuanya membuatku jatuh cinta. Malam itu, malam kecelakaan itu, sebenarnya aku ingin mengutarakan semuanya sebelum aku pergi ke Daegu untuk mengerjakan proyek di sana, tapi kemudian keadaannya tidak memungkinkan. Hingga pada akhirnya aku mengetahui bahwa kamu akan menikah dengan Joe.

Minji, minggu depan aku akan ke Kanada dan tinggal bersama ibuku. Aku memang seseorang yang buruk kan? Setelah mengungkapkan kata cinta pada orang yang sudah menikah, aku malah kabur. Ha..ha..ha.. Tapi, aku tidak sanggup jika harus berada di Korea. Semua hal mengingatkanku padamu. Maaf jika aku membuatmu kecewa karena tidak hadir di pernikahanmu hari ini. Semuanya terasa sangat berat dan aku takut jika aku hadir, aku hanya akan menghancurkan pernikahan kalian karena aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memelukmu di sana.

Minji, aku berharap, kamu bahagia dengan pilihan yang kamu pilih. Aku tahu ini semua yang terbaik yang direncanakan Tuhan untuk kita semua. Terimakasih atas hampir 4 tahun yang sangat indah dan berwarna ini. Selamat tinggal.

 

JS

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s